2017/09/25

Sedikit informasi mengenai menabung dan investasi



Ada anggapan bahwa menabung di bank sekarang kurang menguntungkan karena bunganya kecil, pajaknya besr, biaya administrasinya juga tinggi. Semua itu tidak seimbang dengan tikat inflasi yang ada. Kalau dalam jangka waktu lama, menabung di bank bukannya membuat kita makin beruntung, tapi malah buntung, karena tingkat inflasi yang lebih besar dari bunga bersih yang didapatkan. Makanya nggak heran kalau dalam beberapa tahun terkahir, ada anggapan lebih baik berinvestasi, karena dianggpa lebih menguntungkan daripada menabung. Benarkah begitu?
Sebenarnya menabung agak berbeda dengan investasi. Kalau menabung, faktor yang diutamakan adalah faktor keamanan, faktor kenyamanan, dan faktor likuiditas. Jadi, fokus utama menabung bukanlah untuk mendapat hasil tabungan (saving yield) setinggi-tingginya. Ketika menabung, fokus utamanya adalah supaya uang kita aman, gampang ditabung, dan gampang ditarik kalau dibutuhkan. Tapi kalau bicara masalah investasi, faktor utama yang jadi perhatian kita adalah faktor hasil investasi (investment yield).

Sebenarnya investasi juga adalah sebuah bentuk lain dari tabungan. Hanya saja, investasi punya risiko yagn lebih tinggi dari tabungan. Resiko yang paling umum adalah resiko kerugian atau resiko turun nilai (depresiasi). Dalam investasi, kemungkinan uang kita hilang bisa terjadi kapan saja tanpa diduga karena sifat investasi yang tidak pasti. Selain itu, investasi lebih susah diambil atau dicairkan dibanding tabungan yang bisa diambil kapan saja. Contohnya kita punya investasi dalam bentuk properti (sebidang tanah atau rumah). Ketika membutuhkan uang, kita tidak bisa begitu saja mencairkan investasi dan menarik uangnya, kan?
Jadi, mana yang harus dipilih? Menabung atau berinvestasi? Lebih baik punya kedua-duanya karena kedua instrumen keuangan ini punya kelebihan yang berbeda. Dengan mempunyai keduanya, dapat mengurangi resiko kerugian yang terlalu besar, misalnya ketika dunia investasi sedang terpuruk (down market), seperti krisis ekonomi tahun 1997. Saat itu walaupun dunia investasi terpuruk, bunga tabungan malah naik begitu besar karena pemerintah berusaha mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika.

0 comments:

Post a Comment