2017/09/24

Budgeting with envelope system (Penganggaran dengan sistem amplop)

Sebenarnya sistem amplop ini jadul banget, asalanya dari zaman kakek neek kita, waktu belum ada ATM, auto debit, dan bank masih jarang. Terus kenapa dibahas sistem amplop ini? karena efektif! cara ini efektif buat kita yang hobinya "gesek kartu". Gesek kartu debit, ataupun gesek kartu kredit. Dengan cara ini kita bisa say "bye bye" to "gesek" karena akan banyak pakai uang tunai. Dengan cara jadul ini, kita cuman bisa mengeluarkan uang sebanyak jumlah uang yang ada di amplop, sesuai dengan porsi yang ditetapkan di awal bulan. Untuk lebih jelasnya simak deh video berikut ini :



Setelah lihat video tadi, anda masih bingung? hmm sebenarnya caranya simple saja. Begitu anda dapat uang di awal bulan, langsung pisah-pisahkan uang anda tersebut berdasarkan kebutuhan bulanan anda. Ambil sejumlah amplop (sesuai jumlah pos pengeluaran) lalu masukkan ke dalam amplop-amplop tadi sejumlah uang yang sudah kita alokasikan untuk pos pengeluaran itu. Misalnya ada amplop untuk biaya makan satu bulan. Nah, masukkan sejumlah uang yang memang dialokasikan untuk biaya makan sebulan ke dalam amplop makan tadi. atau jika ada amplop untuk belanja baju, maka masukkan uang buat belanja baju ke dalam amplop "belanja baju". Dan setiap kali mau bayar makan atau beli baju, pastikan kita pakai uang yang ada di amplop yang bersangkutan. Jangan pernah ambil uang dari amplop lain. Jangan lupa tuliskan juga berapa jumlah uang yang dipakai supaya kita tahu berapa banyak uang yang sudah terpakai dan berapa banyak sisanya.

Misalkan kita belanja tapi jumlah belanjaannya lebih besar dari yang kita budget-kan? gimana donk? kurangi jumlah belanjaannya. Sesuaikan jumlah belanjaan dengan uang yang ada di amplop. Cara ini memang jadul tapi efektif, karena selain mengetahui budget, kita juga lebih disiplin dan bisa membatasi diri dalam memakai uang. Cara ini memang kurang efisien, mesti ambil uang, bagi-bagi, masukkan amplop, tapi lebih baik daripada gesek kartu kredit, lalu kemudian nggak punya uang untuk lunasi biaya kartu kredit tadi.
Survei menunjukkan bahwa orang menghabiskan 18% lebih banyak, kalau memakai kartu kredit daripada ketika membayar dengan uang tunai. Wow!

Bagaimana kalau uang di amplop tertentu sudah habis, tapi masih ingin belanja? Stop! Belajarlah untuk menahan diri. Kalau memang ada alternatif lain yang baik selain belanja, gunakan itu. Dan juga jangan berpikir untuk memakai uang dari amplop lain. Jangan! intinya, uang di amplop itu hanya boleh digunakan sesuai dengan kebutuhan yang tertulis di amplopnya. Tujuan sistem ini supaya kita belajar disiplin dan belajar pakai uang sesuai budget. Bagaimana kalau seandainya uangnya ada sisa? Good job. Kita bisa tabung sisa uang tersebut untuk budget bulan depan atau untuk merayakan keberhasilan menggunakan sistem amplop (tapi perayaannya jangan mahal-mahal yah hehe).

Envelope system ini bisa digunakan untuk semua pengeluaran. Gunakan cara ini untuk pos-pos yang bisa membuat budget kita "gembos" kayak : makan di resto, hiburan, dan belanja baju.

Apa yang terlintas dalam pikiran kalau dengar ada tukang sayur yang bisa punya motor seharga Rp 54 juta? mungkin ada orang yang bilang nggak mungkin atau ada yang berpikir, jangan-jangan maling nih orang. Atau malah ada yang berpikir ini cuma tipu-tipu alias hoax. Tapi ini adalah cerita nyata, lho. Kejadiannya ada di Magelang. Namanya Tanto Dwi Anggoro. Pekerjaannya sehari-hari adalah jualan sayur keliling pakai Yamaha R25 250 cc yang ia beli kontan! gaya, kan?
Kenapa seorang tuykang sayur biasa bisa punya motor semahal itu? Kuncinya adalah mengerti konsep budgeting yang bagus. Biar cuman dapat untung Rp 250.000 sehari dari hasil jualan sayur kelilingnya, Mas Dwi ini pintar mengatur uangnya dan punya budget. Uang yang didapatnya itu dibagi bagi untuk berbagai macam keperluan. Sebagian ditabung buat beli motor sebagian buat beli bensin per hari, buat jatah istri per hari, buat bayar sekolah anak, buat bayar hutang, dan sebagainya. hasilnya? Satu motor Yamaha R25 250 cc baru dan satu kelaurga bahagia yang nggak kekurangan.

Ini satu contoh nyata dari power of budget. Sepertinya bikin budget itu sederhana atau mungkin ribet bagi beberapa orang, tapi dampaknya dahsyat, bro!

0 comments:

Post a Comment